Childhood Love
“Have you ever been in love with
someone so deeply ?”
“Have you ever fall in love with
someone that you can’t love other girls than her ?”
“Have you ever felt happiness so much
from loving someone that you think you could die from it ?”
“Well, I have”
Chapter 1: Where it All Begin
Semuanya dimulai dari
12 atau 13 tahun yang lalu ketika masa kecilku. Aku Yuki yg berumur 6 tahun
seorang anak kecil yg belum mengerti apapun bertemu dengan seorang bocah
lainnya yg bernama Haruo yg biasa kupanggil Haru atau Haru-chan. Yah dia
sebenarnya adalah tetangga sebelah rumahku dan sudah pasti kalau kita bertemu
di taman ini karena disinilah kita biasa bermain menghabiskan waktu hingga
petang tiba. Haru adalah cowok yg asyik untuk diajak bermain bersama, yah
walaupun kita berdua tidak banyak memiliki teman lain di sini jadi di taman yg
besar ini hanya kita berdua lah yg bermain disini.
“Jadi, apa yg harus kita mainkan hari ini ?” Haru bertanya
padaku.
“Eh ? hmmmmm….. gimana kalau kita bikin boneka salju aja ?”
“Eeeeeeeh ? Boneka salju ? tapi kemarin kita udah bikin
boneka salju kan”
“Ayolaaaaah sekali lagi juga gak ada salahnya kan, ayolaaaah
Haru-chaaaan ayolaaaaah”
“Okay okay kita bikin boneka salju hari ini”
“Horaaaaaaay makasih Haru”
“Kamu itu seneng banget sama boneka salju yah”
“Habisnya kan namaku Yuki yg artinya salju hehe”
Dan
seperti itulah kami menghabiskan waktu setiap hari sebelum kami menginjak
sekolah dasar. Bermain – main di taman melakukan hal hal aneh mengelilingi kota
dan terkadang bermain – main disekitar sungai bersenang – senang sampai kita
lupa waktu. Hal itu adalah hal yang benar benar tak bisa tergantikan. Terkadang
aku berpikir sekarang masa - masa itu
adalah masa – masa paling menyenangkan untukku. Karena saat itu aku benar –
benar merasa hidup karena aku selalu menikmati hidupku sepenuhnya setiap hari
bersama Haru.
Disaat
kami memasuki Sekolah Dasar pun tak ada yg berubah Haru dan aku tetap bermain
bersama sepulang sekolah. Bahkan kamipun mendapatkan kelas yg sama sampai kelas
6. Hanya satu perbedaan yg terlihat jelas. Aku yg tidak pandai bergaul dan
membuat teman akhirnya selalu disisihkan dari kelas. Sebaliknya Haru adalah
cowok yg paling terkenal dikelas bahkan kelas sebelah, semua orang mau berteman
dan ngobrol dengan dia. Walaupun Haru seperti itu hanya Haru-lah yg mau
berbicara dan mengajakku bermain. Bahkan saat kelas olahraga ketika kami
diharuskan berpasangan tidak ada yg mau berpasangan denganku.
“Yuki… heeeeey Yukiiiii… heeeeeeey Yuukiii-chaaaaaaaan” Haru
memanggil namaku.
“Eh ?” Aku menjawab kebingungan.
“Mau berpasangan denganku saja ?”
“Mau berpasangan denganku saja ?”
“Eeeeeeeh ? tapi masih banyak orang lain yg mau berpasangan
sama kamu”
“Hmmmm….. tapi kan kamu belum dapet pasangan dan lagipula aku
lebih senang berpasangan sama kamu”
Aku berpikir
sejenak apakah boleh aku cewek yg paling disisihkan disekolah berpasangan
dengan orang yang paling terkenal disekolah.
“Jadi ?” Haru memastikan.
“Hmmm… okedeh kalau Haru yg ngajak”
“Asyiiiik yuk kita lapor ke guru”
Pada
akhirnya aku pun berpasangan dengan Haru setiap pelajaran olahraga yg
berpasangan ataupun pelajaran lainnya yg berkelompok. Begitulah Haru dia
berteman dengan siapa saja tanpa pandang siapa orang itu. Seperti itulah Haru
yg aku sukai.
“Eh ? mikir apa sih aku” aku bergumam sendiri sambil tersenyum
memandangi Haru yg sedang tertawa mengobrol dengan teman – teman yg lain.
“Heeeey Haru kita main bola yuk” seorang teman Haru sedikit
berteriak dari luar kelas sambil menghampiri Haru
“Wah maaf tapi pulang sekolah hari ini aku gak bisa” jawab
Haru
“Eeeeeeeeh ? kenapa ? ayolaaaaah gak akan seru kalo kamu gak
ikut”
“Tapi aku udah ada janji sama Yuki, kita mau main ke sungai”
“Heeeee ? Yuki ? maksud kamu Yuki yg itu ?”
“Memangnya Yuki yg mana lagi ?”
“Ngapain kamu main sama dia ? mending main sama kita aja”
“Hey, hey tidak baik bicara seperti itu” Haru membelaku.
“Tapi memang tidak ada yang mau
berteman sama Yuki karna dia menutup dirinya sendiri dan dia aja gak pernah
senyum sedikitpun kamu ngapain masih berteman sama orang seperti itu” teman
Haru mengejekku.
Yah aku sih
sudah biasa di ejek dan di bully seperti itu. Dari semenjak masuk sekolah dasar
pun aku memang tidak bisa mengobrol dan membuat teman selain Haru.
“HEY!!!” Haru membentak.
“Walaupun Yuki terlihat menutup dirinya tapi dia adalah gadis
yg baik, dia cuma gak pernah bisa bergabung karena kalian selalu bikin batas
dan gak ngebiarin dia ikut jadi teman kalian. Harusnya kalian juga sadar dan
ngedeket dong!” Haru berkata sambil menaikkan suaranya dan menghampiriku.
“Yuk ah Yuki” dia menggandeng tanganku dan mengajakku keluar.
Aku hanya
bisa diam dan mengikuti Haru yg menarikku keluar kelas. Mungkin ini hanya
perasaanku saja tapi sepertinya Haru membelaku disana tadi atau memang dia memerlakukan
semua temannya setara aku tak tahu. Yang manapun alasannya aku tetap senang dan
sepertinya mukaku memerah karena tersipu.
“Hey Haru” Aku memanggil Haru dengan suara yg kecil
“Hmm…. Kenapa ?” Haru membalasku dengan suara lembutnya
seperti biasa
“Apakah gak apa – apa ?” Aku bertanya dengan malu – malu
“Apanya ?” Haru bertanya keheranan
“Kalo kamu terus – terusan temenan dan main sama aku lama –
lama kamu bisa dijauhin dan diasingin sama temen – temen kamu yg lain”
“Hmmm…. Gak apa, aku lebih memilih bisa main sama kamu
daripada punya banyak temen tapi gak bisa main sama kamu hehe” Haru menjawab
dengan penuh percaya diri dan keyakinan
“Heeeh ?” Aku kaget dan malu
“Tapi… tapi…” Aku memprotes walaupun sebenarnya aku senang.
“Sudahlah tidak ada tapi – tapian ayo kita main haha selagi
kita main aku akan ngajarin kamu caranya berteman sama yg lain” Haru menjawab
sambil mengambil tanganku
Dan kita
menghabiskan sore itu bermain di pinggiran sungai dan dia mengajarkanku
bagaimana carnya mengobrol dengan orang lain dan mengajarkanku membuat teman.
Yah, sebenarnya sih aku gak begitu peduli dengan membuat teman baru selama bisa
main bersama Haru gak ada lagi yg aku lebih inginkan.
Esok harinya
aku mencoba untuk melakukan apa yang diajarkan Haru kepadaku dan akhirnya
beberapa teman cewek dikelas mau mengobrol dan mengajakku makan bersama.
Mungkin bukan hanya karena aku yang mengajak mereka mengobrol duluan tapi
karena Haru lah yang berteriak kemarin yang membuat mereka melembut padaku. Dan
pada akhirnya aku ditolong Haru dalam hal membuat teman tanpa diketahuinya. Aku
benar – benar tak bisa berhenti berterimakasih kepada Haru.
Seminggu
setelah orang – orang berteman denganku dan aku semakin banyak menghabiskan
waktu dengan Haru muncullah permasalahan baru. Aku merasa anak – anak cowok
dikelasku tidak senang karena aku selalu
memanfaatkan kebaikan Haru dan menghabiskan waktu bermain hanya berdua
dan mereka tidak dapat bermain dengan Haru yang menjadi bintang sekolah. Yah
disekolahku memang seperti terbagi dua kubu, kubu para cowok dan kubu cewek.
Hanya Haru dan akulah cowok dan cewek yang selalu bermain bersama sisanya yah
tidak begitu akur. Dan pada akhirnya mereka sampai menyembunyikan sepatuku.
Itusih hanya awalnya dimulai dari menyembunyikan sepatu mencorat – coret buku
catatanku dan pada akhirnya mereka menyergapku di kelas dengan 4 orang dan
menjahiliku habis – habisan. Dan tiba – tiba…..
*braaaakkk* pintu terbuka dengan paksa
“APA YANG KALIAN LAKUKAN ???” Haru berteriak sambil berlari
den berdiri didepanku melindungiku.
“ki.. ki… kita… kita cuma…” jawab seorang cowok yang kalo gak
salah namanya Morisawa.
“Pasti kalian kan yang dari kemarin menjahili Yuki !!! dan
sekarang ??? kalian berempat cowok ingin mengeroyok Yuki yang sendirian ???
hebat sekali kalian !!!”
“Bu.. bu.. bukan begitu Haru” Morisawa menyangkal dengan
terbata – bata.
“Udahlah gak usah menyangkal aku udah tau semuanya kok !
Mulai dari sekarang aku sendiri yang akan melindungi Yuki siapapun itu yang
menjahili Yuki akan kuhajar baik itu temanku atau bukan” Haru menggandeng
tanganku dan menarikku keluar dari kelas.
…..
….
…
..
.
Setelah beberapa saat berlalu ternyata aku dibawa Haru ke
taman tempat kami biasa bermain dan kami berdua duduk di ayunan yg
bersebelahan.
“Hey Haru maaf aku selalu aja merepotkanmu” aku berkata
sambil menundukkan kepala.
“Ayolah kamu gak merepotkanku kok memang aku yg mau
melindungimu habisnya kan sebelum aku berteman dengan mereka aku sudah berteman
dengan Yuki terlebih dahulu jadi udah pasti aku lebih memilih kamu dibanding
mereka.” Balas Haru sambil menyemangatiku.
“Makasih Haru kamu selalu saja baik denganku padahal aku
tidak pernah melakukan apapun buat kamu”
“Eeeeeh ? tidak pernah berbuat apa apa ? kamu udah berbuat
banyak kok buat aku cuma kamu aja yang gak sadar hehe” Haru menyengir lebar
“Ehehe makasih Haru”
“Untuk apa lagi ?”
“Semua hal hehe”
“Hmmm… Baiklah” Haru tersenyum lembut
Seperti
itulah masalaluku dengan Haru cowok ideal dan idaman semua orang dan sampai
saat ini menjadi orang yang selalu aku sukai dan selalu aku pikirkan.
Chapter 2: Confession
Masa SMA,
orang bilang masa masa SMA adalah masa yang paling indah. Well, mungkin itu
juga berlaku untukku walaupun sampai saat ini belum ada hal yang istimewa yang
terjadi padaku tapi belum ada hal yang sangat buruk juga yang terjadi padaku.
Jadi yah mungkin kehidupan SMA-ku biasa – biasa saja. Rasa sukaku pada Haru ?
yah hal itu semakin menjadi saja setelah aku masuk SMA walaupun aku juga belum
mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Setidaknya, selama 10 tahun aku
bersama Haru entah kenapa karena kejaiban atau seseorang yang mengaturnya
tetapi aku selalu saja sekelas dengan Haru. Banyak sekali hal yang terjadi
setelah hari dimana Haru menolongku dari pembullian di SD. Seperti ketika kami
berpetualang dan tersesat di hutan belakang kuil atau disaat kelulusan aku
mengambil kancing kedua dari baju seragamnya dan banyak hal lainnya. Hari ini
adalah hari pertama kami menginjakkan kaki di kelas 2 SMA. Seperti biasanya aku
dan Haru sekelas lagi. Kepada siapapun yang membuatnya seperti ini aku sangat
sangat berterimakasih.
“Pagi Yuki, Sepertinya kita sekelas lagi Yuki haha” Ucap Haru
sambil tertawa kecil dan mengambil tempat duduk disampingku.
“Oh, pagi juga Haru, Mohon bantuannya sekali lagi yah Haru
hehe” Balasku.
“Aku juga mohon bantuannya lagi untuk setahun ini, tapi
sepertinya dewi fortuna benar benar memihak kita yah sejak kita kelas 1 SD kita
selalu saja sekelas”.
“Hmmmm…. Ada benarnya juga sih bukannya ini hanya kebetulan
saja ?”.
“Hmmm… Mungkin sih, atau…. Kita memang ditakdirkan untuk
selalu bersama ? hahaha” Haru mengatakannya sambil tertawa kecil.
“Eeeeh ? Eeeeh ?” aku kebingungan dan menutupi mukaku yang
memerah.
“Bercanda bercanda aku hanya bercanda kok”
“Huffff yaampun Haru kamu ini selalu saja mengacaukan
perasaanku” aku bergumam kecil.
“Eh ? Kamu bilang sesuatu ?”
“Enggak kok hehe” aku menggeleng pelan.
Seperti itulah
candaan pagi yang biasa kami lakukan. Dia selalu saja bercanda seperti itu
tanpa mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Dan sialnya sampai sekarang aku
tidak tahu apa yang dia pikirkan tentangku dan aku tidak tahu apakah dia
memiliki perasaan yang sama tentangku seperti perasaanku padanya. Well, untuk
sekarang aku sudah puas bila bisa bersama dia saja. Lagipula hanya dengan
memiliki perasaan ini saja dan berada disampingnya sudah membuatku senang.
“Hei Yuki” seseorang dari belakang memanggilku.
“Oh ? Nanaka ? ternyata kau sekelas denganku ?”
“Haha sepertinya begitu”
Nanaka
Arashima adalah sahabat karibku yang lain semenjak SMP. Dia adalah orang yang
baik hati, lembut, cantik, memiliki rambut hitam lurus sebahu, dan memakai
kacamata. Dia selalu mendengarkanku ketika aku bercerita tentang Haru dan tentu
saja dia dengan tepat menebak bahwa aku menyukai Haru.
“Hey Arashima” panggil Haru dari sampingku.
“Oh Kidou-kun ? kau ada dikelas ini juga ternyata” Nanaka
bertanya.
“Yep, sepertinya aku stuck dengan dia” Haru membalas sambil
menunjukku.
“Apa maksudmu Haru ?” balasku “Apa kau tidak suka sekelas
denganku ?” aku menambahkan.
“Enggak kok, justru aku senang karena tidak perlu susah payah
menghapal nama – nama lagi bila sekelas dengan orang yang aku kenal” balas
Haru.
“Hanya karena itu kah ? Hmmph” aku cemberut dengan dibuat –
buat.
“Sudah – sudah pertengkaran suami istrinya ditunda saja dulu”
sela Nanaka
“Wha-“ Haru membalas seperti orang yang tersedak.
“Siapa yang suami istri ? huh” balasku dengan menaikkan nada
sedikit
“hmmmm….. siapa ya kira kira” Nanaka melirikku dengan cara
yang aneh. “oke lupakan hal yang tadi, hey haru apa benar kau mendapatkan love
letter lagi ?” tambah Nanaka.
“GEH ?! ta… ta… tau dari mana kau ?” balas Haru dengan panic
“Heeeeeeeh ? benarkah itu Haru ?” tanyaku dengan cepat
“Jangan main – main dengan sumber informasiku yang cepat dan
terpercaya haha” kata Nanaka
“Well, benar sih aku mendapatkannya pagi ini di loker
sepatuku” balas Haru setengah – setengah.
“ternyata benar sumberku” balas Nanaka
“Love Letter di awal tahun ajaran ? Yaampun apa yang
dipikirkan orang itu sih ?” aku mengucapkan apa yang kupikirkan. Yah sudah
tidak asing bila Haru mendapatkan Love Letter. Semenjak SMP dia selalu saja
mendapatkan Love Letter yang banyak sekali.
“Jadi ? Apa jawabanmu ?” aku menambahkan.
“Tentu saja akan ku tolak” jawab Haru dengan mantap. Yah,
bukan pertama kalinya bila Haru menolak cewek. Justru, setiap kali dia
mendapatkan Love Letter selalu saja dia menolaknya. Aku sih justru senang –
senang saja karena Haru selalu single tetapi aku makin takut menyatakan cintaku
padanya. Aku takut bila aku ditolak dan merusak hubungan persahabatan ini.
“Apa kau yakin ?” Tanya Nanaka. “Katanya dia adalah Koeda-san
anak kelas 2-E dan cukup menarik lho” tambahnya
“Well, aku gak begitu peduli. Lagipula aku belum begitu
mengenal dia dan….” Balas Haru
“Dan apa ?” tanyaku
“Eh ?” Haru menoleh padaku. “Banyak hal lainnya” tambahnya
sambil mengalingkan pandangannya keluar jendela.
“Hmmmm…. Dasar Haru aneh” aku berkomentar.
“Heeeeh ? mengapa aku yang aneh ?” Tanya Haru panik.
“Memang Haru aneh kok wek” jawabku sambil menjulurkan lidah.
“Baiklaaaaaah duduk ditempat kalian masing – masing Homeroom
akan dimulai” guru berteriak dari pintu sambil menuju ke tempatnya.
Aku penasaran
akan hal - hal lain yang membuat Haru menolak semua cewek cewek yang memberikannya
Love Letter ataupun menyatakan cintanya ke Haru. Apakah dia sudah mempunyai
orang yang disukainya tanpa sepengetahuanku. Apakah itu aku ? atau Nanaka ?
atau bahkan orang lain yang tidak kukenal. Setidaknya aku mengetahui bahwa Haru
belum memiliki pacar karena bila dia punya pasti dia akan bercerita padaku.
Tapi, yang paling aku bingungkan adalah terkenal sekali Haru sampai – sampai di
awal tahun ajaran baru saja sudah ada yang mengirimkannya Love Letter. Cewek
yang berani sekali Koeda-san itu. Walaupun begitu aku sedikit kasihan dengan
Koeda-san karena perasaannya tidak dapat tersampaikan walaupun dia sudah
menyatakannya di suratnya. Yah, habisnya yg dikiriminya adalah Haru satu –
satunya orang yang pernah menolak idola sekolah saat SMP.
“Heeeey Yuki pulang bareng yuk” ajak Nanaka
“Oke tunggu sebentar ya” aku mengangguk
“Kidou-kun juga ikut kan ?” Nanaka menambahkan
“Oke” jawab Haru
“Yuk jalan” ajakku
Sesampainya
di loker sepatu
“Kamu gak latihan basket Haru ?” tanyaku
“Enggak ah, aku mau berhenti saja dari basket” jawabnya malas
“Kenapa ? bukannya kamu Ace mereka ?” tanyaku kebingungan.
Jelas saja karena Haru adalah pemain basket yang hebat dan handal. Karena
dialah sekolah kami dapat sampai ke semifinal tahun kemarin.
“Habisnya ada gossip kalo aku bakal jadi ketua selanjutnya
sih, karna aku malas jadi ketua yasudah aku berhenti saja” jawabnya dengan
santai
“Heeeeeh ? karena alasan seperti itu ? tapikan jadi ketua
klub basket itu keren kenapa kamu malah gak mau ?”
“Karna malas, terlalu merepotkan menjadi ketua itu”
“Kidou-kun kau itu bodoh dan kekanak – kanakan yah” sela
Nanaka sambil memegang kepala dan menggelengkan kepalanya.
“Maaf yah Nanaka dia memang seperti ini dari dulu hanya badan
dan otaknya saja yang berkembang tapi sifatnya tidak berkembang” balasku sambil
menghela nafas
“Aku turut berduka cita ya Yuki” balas Nanaka
“Akhirnya kau tahu penderitaanku selama ini kan Nanaka”
balasku
“Hey hey hey, ini perasaanku saja atau dari tadi kalian
sedang menjelek – jelekkanku ?” Haru memprotes.
Setelah itu
Hari – hari kami berlangsung seperti biasanya. Berangkat sekolah bersama, makan
siang bersama, pulang sekolah bersama walaupun terkadang Haru memiliki urusan
lain setelah pulang sekolah, terkadang pergi ke suatu tempat setelah sekolah.
Tak ada satupun yg berubah. Yep, tidak ada yang berubah tidak ada yang
berkurang ataupun bertambah sedikitpun. Sampai pada suatu saat ketika istirahat
sekolah.
“Hey, Yuki apa kau sudah mendengar beritanya ?” Tanya Nanaka.
“Berita apa ?” jawabku.
“Kau ini cukup terkenal di beberapa kalangan cowok lho” balas
Nanaka dengan nada monoton
“Eeeeeeh ? tidak mungkin. Tidak tidak tidak, hal itu sih
tidak mungkin pernah terjadi” jawabku dengan panik
“Benar kok, lagipula kan kau ini cantik, memiliki rambut
hitam, lebat dan panjang, dan juga kau ini cukup pintar cukup hebat dalam
olahraga juga walaupun kau ini airhead dan terkadang bodoh juga” balasnya “Dan
yang kudengar katanya hari ini ada cowok yang akan menyatakan cintanya padamu”
tambahnya
“EEEEEEEH ? Bohong, kau bohong kan Nanaka ? Itu tidak mungkin
terjadi” jawabku yang masih panik
“Hey suaramu terlalu keras”
Dan tanpa kusadari orang – orang yang ada di dalam kelas
melihat kearahku semua.
“Ehehe maaf” aku meminta maaf kepada teman – temanku yang ada
dikelas sambil sedikit membungkukkan kepala
“Yah kita lihat saja nanti apakah informasi yang kuperoleh
ini benar atau tidak” Nanaka berkata sambil bertingkah seperti dia tidak
tertarik walaupun aku yakin sekali dia sangat tertarik dengan berita ini
“Hey Yuki ada apa ?” Haru tiba tiba datang dengan kopi kaleng
ditangannya.
“Eh Ha… Ha… Haru, ummm… tidak ada apa apa kok” jawabku dengan
panic
“Hmmm… benar tidak ada apa – apa ? mencurigakan” balasnya
sambil meragukanku
“Benar kok tidak ada apa – apa”
“Baiklah kalau begitu, oh iya sepertinya hari ini aku tidak
bisa pulang bersama. Aku ada latihan basket sepulang sekolah”
“Baiklah kalau begitu aku pulang bersama Nanaka saja”
“Oh, aku juga sepertinya tidak bisa menemanimu pulang Yuki,
orang – orang klub memasak memintaku untuk mengajari mereka membuat kue”jawab
Nanaka
Walaupun
Nanaka tidak termasuk klub memasak tetapi dia sangat hebat dalam membuat kue.
Dia bahkan selalu memiliki nilai tertinggi dalam pelajaran Home-ed.
“Yaaaaaaah, berarti aku pulang sendirian dong” aku cemberut
“Well, sepertinya hari ini kita pulang sendiri – sendiri”
Kata Haru sambil mengusap kepalaku
-*Ding dong ding*-
“Sudah saatnya masuk kembali ke tempat duduk masing – masing”
teriak guru wali kelas kami dari pintu sambil masuk ke kelas.
Kenapa harus
di hari seperti ini aku tidak bisa pulang bersama Haru. Tapi itu sedikit
memudahkanku karena mungkin saja hari ini aku benar benar ditembak cowok
seperti yang dikatakan Nanaka. Karena biasanya informasi Nanaka selalu saja
benar seperti love letter yang diterima Haru sebelumnya. Aku menghabiskan hari
dikelas dengan was – was.
-*Ding dong dingdong*-
Dan akhirnya
waktunya pulang. Aku sangatlah khawatir dan tidak karuan. Aku merapihkan mejaku
dengan lambat, tentu saja aku sengaja agar Haru bisa menuju ke ruang gym untuk
latihan dulu sebelum aku benar benar ditembak.
“Baiklah aku ke gym duluan ya Yuki” Haru kembali mengusap
kepalaku yang entah kenapa membuatku sedikit tenang
“Oke” balasku.
“Aku juga akan ke klub memasak dulu” ucap Nanaka sambil
melewatiku
“Oke Nanaka, daaaah” balasku
“Daah juga, dan semoga beruntung Yuki” tambah Nanaka
“Muuu….” Aku cemberut dengan sengaja kearah Nanaka
“Ehehe imutnya Yuki” sambil berbelok kearah lorong sekolah
Dan akhirnya
aku selesai berberes seluruh peralatan sekolahku dan keluar dari kelas.
Jantungku berdegup kencang selagi aku menelusuri lorong sekolah. Dimana aku
akan ditembak ? disinikah ? atau ketika aku keluar sekolah kah ? bagaimana dia
akan menembakku ? dengan suratkah ? secara langsungkah ? atau berteriak kah ?
pertanyaan – pertanyaan seperti itu muncul di kepalaku secara tiba – tiba. Aku
memikirkan hal – hal itu sampai pada akhirnya aku tiba di loker sepatu. Ketika
aku membuka lokerku benar saja ada secarik kertas disana. Aku mengambilnya dan
membukanya “Temui Aku di Belakang
Sekolah” tertulis dikertas itu. Ketika aku membaca kertas itu aku berpikir
kenapa informasimu selalu benar Nanaka. Kau benar benar menakutkan, untung saja
aku berteman denganmu. Aku menuju belakang sekolah seperti yang tertulis
dikertas tersebut sambil menunduk karena sangat tidaklah sopan kalau aku kabur
sekarang dan meninggalkan orang yang sudah memberanikan diri mengirimkan kertas
itu padaku bila aku tidak menemuinya.
Sesampainya
aku dibelakang sekolah terlihat disana seorang cowok menyender ke tembok. Kalau
tidak salah dia adalah Umehara-kun teman sekelasku ketika kelas 1 SMA kemarin.
Dia cukup tampan dan tinggi walaupun tidak setinggi Haru memiliki badan cukup
atletis dan dia adalah pemain inti dari tim sepakbola sekolah kami di tahun
ini.
“A- a- ano” aku memanggilnya sambil mendekat. Tentu saja
jantungku berdegup sangat kencang karena ini adalah pertama kalinya aku
mendapatkan pernyataan cinta
“O- oh, y- yo Shiba-san” balasnya sambil gugup menyadari
kedatanganku.
“Jadi U- Umehara-kun kah
yang memanggilku kesini ?” tanyaku
“Y- Yep, ada hal yang ingin kusampaikan pada Shiba-san”
balasnya
“A- apa itu ?” Jantungku berdegup semakin kencang. Walaupun
aku sudah tahu apa yang akan diucapkannya tetap saja aku bertanya karena aku
tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi
“A- aku” ucap Umehara-kun dengan ragu, lalu Umehara-kun
mengepalkan tangannya dan melanjutkan kalimatnya
“Aku menyukaimu Shiba-san”
“Aku menyukaimu Shiba-san”
“E- eh?” aku tetap kaget walaupun aku sudah menduganya
“Aku menyukaimu sejak kelas 1 kemarin, aku menyukai dirimu
yang selalu tersenyum dan ceria, aku menyukai caramu memperlakukan orang lain
dengan lembut, aku menyukai dirimu yang selalu baik hati terhadap siapapun itu,
dan masih banyak hal lain yang membuatku menyukai dirimu Shiba-san. Shiba-san
maukah kau berpacaran denganku ?” Umehara-kun menatapku dengan mata yang
serius.
-*Syuuut*-
Aku menoleh
kebelakang. Aku merasa ada seseorang dibelakangku tadi dan aku bersumpah aku
merasakan pergerakan orang dibalik gedung tadi. Teman Umehara-kun kah ? Nanaka
kah ? Haru kah ? atau memang hanya perasaanku saja ?. Tapi itu tidak mungkin
Haru karena dia sedang latihan Basket di gym dan tempat ini sangatlah jauh dari
gym. Dan tidak mungkin dia berbohong karena Haru tidak pernah berbohong. Atau
mungkinkah itu Nanaka karena kalau dia mungkin saja berbohong tentang klub
memasak dan menontonku yang sedang ditembak. Dasar orang itu selalu saja senang
kalau aku kebingungan seperti ini.
“Jadi bagaimana Shiba-san ?” Umehara-kun bertanya kembali
Aku menolehkan kepalaku dan menghadap Umehara-kun lagi
“Eh.. a- aku…….”
Chapter 3: That Spring that Melt the
Snow
-Haru Side of View-
“Hey Kidou kau hari ini bisa ikut latihan kan ?” Ucap Kapten
basket
“Hmmm…. Apakah kau masih berusaha menjadikanku kapten
berikutnya lagi ?” jawabku
“Hahaha tidak kok tidak, soalnya tanpamu tim kita kehilangan
kekuatannya kalau kau memang tidak mau menjadi kapten tidak apa – apa tapi
jangan sampai kau keluar dari klub” balasnya
“Baiklah kalau begitu, aku akan ikut latihan hari ini”
“Baguslah kalau begitu, sepulang sekolah datang ke gym oke”
ucap kapten memastikan
“Okay” jawabku
Aku
memutuskan untuk pergi ke vending machine sebelum kembali ke kelas karena aku
sangat haus dan mengantuk untuk melanjutkan kelas selanjutnya. Sesampainya di
vending machine aku memasukkanuang recehku dan memencet tombol untuk kopi
kaleng. Setelah menenggak kopiku aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Seperti
biasa setiap kali aku berjalan sendirian di lorong sekolah selalu saja para
cewek melihatku sambil berbisik. Hal inilah yang membuatku sangat malas untuk
pergi keluar kelas. Lagipula, apasih yang sedang mereka bicarakan. Mengherankan
sekali. Sesampainya dikelas aku melihat Yuki dan Arashima sedang membicarakan sesuatu
dan Yuki terlihat sedikit kebingungan.
“Hey Yuki ada apa ?”
tegurku.
“Eh Ha… Ha… Haru, ummm… tidak ada apa apa kok” Yuki menjawab
dengan sedikit panik.
“Hmmm… benar tidak ada apa – apa ? mencurigakan” balasku
sambil mencurigainya. Pasti ada sesuatu yang mereka bicarakan tanpa ingin aku
mengetahuinya
“Benar kok tidak ada apa – apa”
“Baiklah kalau begitu” aku menyerah lagipula itu adalah
urusan dia, mungkin Yuki pun memiliki rahasia yang tidak ingin diketahui
olehku. “Oh iya sepertinya hari ini aku tidak bisa pulang bersama. Aku ada
latihan basket sepulang sekolah” tambahku memberitahu bahwa hari ini aku tidak
bisa pulang bersama
“Baiklah kalau begitu aku pulang bersama Nanaka saja” Balas
Yuki sambil menoleh kearah Arashima
“Oh, aku juga sepertinya tidak bisa menemanimu pulang Yuki,
orang – orang klub memasak memintaku untuk mengajari mereka membuat kue”jawab
Arashima
“Yaaaaaaah, berarti
aku pulang sendirian dong” Yuki cemberut dengan dibuat – buat. Dia sangatlah
imut ketika melakukan itu
“Well, sepertinya hari ini kita pulang sendiri – sendiri” ucapku
sambil menepuk dan mengusap kepala Yuki
-*Ding dong ding*-
Bel berbunyi menandakan sudah waktunya untuk memulai kelas
“Sudah saatnya masuk kembali ke tempat duduk masing – masing”
teriak guru wali kelas kami dari pintu sambil masuk ke kelas.
Sepanjang
kelas siang Yuki terlihat khawatir akan sesuatu, dan dia seperti sedang
memikirkan sesuatu. Sebenarnya aku ingin membantunya bila dia memiliki masalah.
Lagipula, dia adalah teman masa kecilku dan seseorang yang cukup berarti
bagiku. Dan jam terakhirpun berakhir dengan Yuki yang masih terlihat bingung
akan sesuatu. Yah sepertinya aku tidak bisa membantu masalah kali ini karena
biasanya kalau Yuki memiliki masalah pasti dia akan menceritakannya sendiri padaku.
“Baiklah aku ke gym duluan ya Yuki” Aku melewati mejanya
sambil mengusapkan tanganku ke kepalanya. Karena biasanya bila aku melakukan
ini dia akan sedikit tenang.
“Oke” balasnya
Aku langsung
mempercepat langkahku menuju gym karena seperti biasa lorong sekolah dan loker
sepatu pasti akan dipenuhi oleh siswa siswi lainnya dan aku benci berdesak –
desakkan dengan mereka hanya untuk memakai sepatu saja. Sesampainya di gym aku
langsung mengganti pakaianku menjadi seragam basket sekolah kami.
“Hey Kidou tolong sensei bilang kita mendapatkan satu bola
basket lagi, bisakah kau ambil di ruang guru ?” Kapten meminta tolong
“Baiklah kalau begitu” jawabku sambil keluar gym. Saat aku
menuju ke gedung utama aku melihat Yuki keluar gedung utama sambil menunduk.
“Bukankah itu Yuki ? sedang apa dia ?” aku bergumam sendiri
selagi melihat Yuki.
Yuki tidak
menuju gerbang melainkan menuju arah lain. Aku memutuskan untuk mengikutinya.
Dan ternyata Yuki menuju kearah belakang gedung utama sekolah sambil memegang
secarik kertas ditangannya. Apa yang ingin dia lakukan disini ? aku berpikir
keras dan akhirnya tidak menemukan jawaban apa – apa. Dan akhirnya dia sampai
di belakang sekolah. Aku berusaha semampuku agar tidak terlihat dan tidak
ketahuan. Aku melihat orang lain di depan Yuki tetapi aku tidak dapat melihat
siapa itu karena aku bersembunyi dibalik gedung.
“A- a- ano” ucap Yuki sambil jalan mendekati orang tersebut
“O- oh, y- yo Shiba-san” balas orang tersebut. Sepertinya
orang yang ditemui Yuki disini adalah seorang cowok.
“Jadi U- Umehara-kun kah
yang memanggilku kesini ?” Yuki bertanya.
Jadi yang
Yuki temui adalah Umehara. Kalau tidak salah dia satu kelas denganku dan Yuki
tahun kemarin. Tapi untuk apa memanggil Yuki kesini
“Y- Yep, ada hal yang ingin kusampaikan pada Shiba-san” balas
Umehara
Tu- tunggu
jangan – jangan Umehara ingin menyatakan cinta pada Yuki
“A- apa itu ?” Yuki membalas dengan gugup
“A- aku” Ucap Umehara ragu – ragu
“Hoi hoi yang benar saja” aku bergumam kepada diriku sendiri
“Aku menyukaimu Shiba-san” tambah Umehara
“Wha- “ aku sangat kaget dan shock dengan pernyataan cinta
Umehara pada Yuki
“E- eh?” Yuki menjawab dengan kaget
“Aku menyukaimu sejak kelas 1 kemarin, aku menyukai dirimu
yang selalu tersenyum dan ceria, aku menyukai caramu memperlakukan orang lain
dengan lembut, aku menyukai dirimu yang selalu baik hati terhadap siapapun itu,
dan masih banyak hal lain yang membuatku menyukai dirimu Shiba-san. Shiba-san
maukah kau berpacaran denganku ?”
Aku
memutuskan langsung pergi dari tempat tersebut karena aku tidak mau mendengar
kelanjutan dari percakapan tersebut. Sejak kapan mereka sedekat itu sampai
Umehara menyatakan cintanya pada Yuki.
“Duh, Itu bukan urusanku!” aku mengatakan hal tersebut pada
diriku sendiri yang sebenarnya adalah sebuah alasan. Sebenarnya aku sangat
takut akan jawaban dari Yuki untuk Umehara. Apakah dia akan bilang iya atau
tidak. Apabila dia menjawab tidak mungkin aku akan sangat lega tapi apa yang
akan terjadi bila Yuki menjawab iya. Pasti mereka akan berpacaran mulai hari
ini. Apakah aku tidak akan bisa jalan berdua dengan Yuki lagi ? tidak bisakah
kita bermain bersama lagi ? tidak bisakah kita menghabiskan waktu berdua lagi ?
karena dia memiliki pacar apakah mulai sekarang dia akan menghabiskan waktunya
bersama pacarnya ?. Pikiran seperti itu membuat hatiku sakit dan membuatku
terlalu takut untuk memikirkannya lagi. Tanpa kuketahui aku mulai berlari
menuju ruang guru untuk mengambil bola dan kembali ke gym dengan perasaan yang
berantakan.
“Aku kembali” ucapku sambil masuk kedalam gym.
“O- oi oi Kudou ada apa ? apakah kau sakit ?” Tanya kapten
“Huh ? oh tidak ?” balasku.
“Tapi mukamu pucat sekali”
“Benarkah ?”
“Pulanglah untuk hari ini, kau tidak dalam kondisi untuk
berlatih hari ini” ucap kapten padaku “Apakah terjadi sesuatu ? kalau ada yang
dapat kubantu bilang saja, tapi untuk sekarang pulang sajalah dulu” tambahnya
“Baiklah kalau begitu, maaf aku tidak dapat membantu hari
ini” aku meminta maaf kepada kapten
“Hahaha tak apa tak apa datang saat latihan lain kali saja untuk
mengganti hari ini” balasnya
“Baiklah, permisi kalau begitu” aku pergi mengambil tasku di
ruang ganti dan memutuskan untuk pulang.
Setelah keluar dari gerbang sekolah
“Haaaaaaah” aku menghela nafas “Sebelum kerumah sepertinya
aku akan pergi ke taman dulu” aku bergumam pada diri sendiri dan pergi menuju
taman tempat aku biasa bermain.
-Yuki Side of View-
“Jadi bagaimana Shiba-san ?” Umehara-kun bertanya kembali
Aku menolehkan kepalaku dan menghadap Umehara-kun lagi
“Eh.. a- aku…….”
Aku mengeratkan genggamanku pada tas yg kupegang. Aku sudah
tahu jawabannya bahkan sebelum sampai disini. Tidak justru aku sudah tahu
jawaban untuk setiap orang yang menembakku mulai sejak SMP
“Maaf Umehara-kun” aku membungkukkan kepala dan badanku
seraya meminta maaf
“Maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu. Bukan berarti aku
membencimu atau apa. Hanya saja, aku sudah menyukai seseorang sejak dulu.
Walaupun orang itu mungkin tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku ataupun
mungkin perasaanku ini tak terbalaskan tetapi aku tetap ingin berpegang teguh
akan perasaan sukaku ini padanya. Maka
dari itu, maaf aku benar benar minta maaf” aku menjelaskan seluruh hal
yang kupikirkan pada Umehara-kun sembari mengangkat kepalaku
Umehara-kun hanya mematung disana dan mulutnya sedikit
menganga. Apakah dia kaget akan hal yang kukatakan atau menganggapku bodoh
karena berharap kepada orang yang belum jelas perasaannya padaku.
“Hooo…. Begitu, baiklah kalau begitu hanya saja jangan
menyesal karena kau telah menolakku. Karena aku akan menjadi pemain bola antar
SMA yang terbaik haha” balas Umehara-kun sambil menggaruk kepalanya
“Baiklah aku akan kembali latihan, kau semoga beruntung
dengan cowokmu itu” tambahnya sembari melewatiku dan berjalan menjauh
“”Maaf Umehara-kun” ucapku selagi Umehara-kun berjalan
semakin menjauh
Dia tidak membalas apapun hanya melambaikan tangannya tanpa
menengok kebelakang. Dan akhirnya dia membelok dan menghilang dari pandanganku.
“Haaaaahhhh…..” aku menghela nafas
“Untung saja aku dapat menuangkan pikiranku dalam kata – kata
kalau tidak bagaimana jadinya” aku bergumam sendiri sembari meninggalkan tempat
itu
Dan aku
memutuskan untuk pulang karena banyak sekali hal yang terjadi hari ini dan aku
tak dapat memprosesnya satu persatu dalam otakku. Aku berjalan dengan tempo
yang sangat lambat entah karena aku masih shock karena aku ditembak atau karena
aku sudah tidak punya tenaga lagi setelah menolak Umehara-kun, aku tidak tahu.
Di tengah jalan aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah melainkan
menuju taman tempat aku biasa bermain dengan Haru terlebih dahulu. Saat aku
sudah sampai di bagian depan taman aku melihat seseorang sedang duduk sambil
menundukkan kepalanya di ayunan taman tersebut. Well, sudah pasti ada orang
lagipula ini taman umum dan bukan taman yang spesial dibuat untukku dan Haru
saja. Aku memutuskan untuk duduk ayunan juga untuk menghilangkan rasa
depresiku. Entah kenapa aku terbiasa berayun di ayunan taman ini ketika aku
sedang memiliki banyak pikiran ataupun sedang depresi dan disaat itu pasti Haru
aka nada disana untuk menghiburku. Saat aku sudah mendekat ayunan aku merasa
aku mengenal orang yang sedang duduk di ayunan tersebut.
“Ha- Haru” Aku memanggilnya dengan tersendat – sendat.
Dia mengangkat kepalanya. Dari seluruh tempat kenapa Haru harus
berada disini. Dan terlebih tampangnya kenapa dia harus memiliki tampang
tertekan seperti itu.
“Ka- Kau kenapa Haru ?” Tanyaku dengan ragu.
“Eh Yu- Yuki ? Ah aku
tidak apa – apa” balasnya
Bohong. Itu pasti adalah sebuah kebohongan, karena Haru
adalah orang yang selalu ceria dan ketika dia depresi atau sedang memiliki
masalah yang sangat berat pasti selalu terlihat jelas di mukanya. Kenapa Haru
harus berbohong padaku. Biasanya dia akan selalu cerita tentang masalahnya.
Kenapa kau harus berbohong Haru.
“Benar kau tak apa ?” aku bertanya sekali lagi
“Yep aku tidak kenapa
– kenapa kok” balasnya berbohong lagi.
Dia jelas - jelas menyembunyikan sesuatu dariku.
“Ah iya aku memiliki urusan lain, Yuki aku pulang duluan ya
daaah” tambahnya sambil berlari kearahku dan melewatiku.
Tidak biasanya Haru seperti ini. Tidak biasanya Haru pulang
begitu saja.
“Dah” jawabku saat Haru sudah melewatiku.
Dia tetap saja berlari keluar taman
tanpa menoleh sedikitpun kebelakang. Dan aku memutuskan untuk duduk dan mulai
mengayun di ayunan tepat disebelah ayunan yang diduduki Haru tadi. Apa yang
terjadi pada Haru ?. hal tersebut terus berputar dikepalaku. Dan selagi aku
memikirkan itu tanpa terasa matahari sudah hamper terbenam dan aku memutuskan
untuk pulang sebelum hari mulai gelap. Sesampainya dirumah aku tidak sempat
untuk berbuat apa – apa lagi dan hanya mandi, makan, dan langsung menuju tempat
tidur untuk beristirahat karena aku sangatlah lelah.
Di pagi hari saat berangkat ke sekolah
aku tidak berangkat bersama Haru. Bahkan aku tidak bertemu dengannya sama
sekali pagi ini. Saat aku menengok kearah rumahnya di jam biasa kami berangkat,
tidak ada tanda – tanda dia keluar dari rumahnya. Aku berjalan sendirian menuju
ke sekolah. Ditengah jalan aku bertemu dengan Nanaka yang sedang berdiri
menunggu di pertigaan jalan. Dan saat dia melihatku dia melambaikan tangannya.
Dan aku melambai balik dan bergegas menuju kearahnya dan kami berjalan samping
– sampingan menuju ke sekolah.
“Mana Haru ?” tanyanya
“Aku tidak tahu, mungkin dia sudah duluan” jawabku
“Jadi bagaimana kemarin ?” dia kembali bertanya
“Eh ? oh maksudmu Umehara-kun ? yah aku menolaknya karena aku
sudah menyukai Haru” balasku
“Pastinya, sudah kutebak jawabanmu” ucap Nanaka sambil
menaikkan kacamatanya “Lalu, kapan kau akan menyatakan cintamu pada pangeranmu
itu ?”
“Eeeeeeh ? Nanaka yaampun, kenapa tiba – tiba kau bertanya
seperti itu ?”
“Habisnya aku sudah lelah melihat kalian berdua selalu saja
seperti itu tanpa ada kemajuan” protes Nanaka “kalau kau lama – lama seperti
itu mungkin Haru akan kurebut lho” tambahnya
“Eh ? apa maksudmu Nanaka ?” tanyaku kepanikan
“Hehe bercanda bercanda” ucap Nanaka sambil menjulurkan lidah
Walaupun seperti apapun Nanaka memang imut dengan caranya
sendiri. Kalau tidak salah banyak juga cowok – cowok sekolah yang menyukai
Nanaka diam – diam dan dia memiliki seperti fans clubnya sendiri. Dan kalau aku
bertanding dengan Nanaka dalam masalah percintaan pasti saja aku kalah.
Dan kita
akhirnya sampai di sekolah. Sesampainya disekolah aku dan Nanaka langsung
mengganti dengan sepatu indoor dan langsung menuju kelas. Dan seperti yang
kuduga Haru ada disana. Dia berada ditempat duduknya sambil menopang kepalanya
dengan tangan kanannya dan melihat keluar jendela. Aku langsung menuju tempat
dudukku yang berada disamping tempat duduk Haru.
“Pagi Haru, kau cepat sekali hari ini” aku menayapanya
seperti biasa.
“oh Yu- Yuki” dia kaget menyadari kehadiranku “ pagi juga,
yah aku yg bertugas piket hari ini jadi aku datang pagi – pagi” tambahnya
“Heeee… Begitu” balasku
Kelaspun
dimulai tanpa salah satu dari kita mencoba untuk memulai obrolan lainnya.
Bahkan saat istirahat dan istirahat makan siangpun aku dan Haru tidak mengobrol
sedikitpun karena dia langsung keluar kelas saat bel berbunyi. Sepertinya Haru
mencoba untuk menghindariku, atau itu hanya bayanganku saja. Dan akhirnya bel
pulang pun berbunyi.
“Hey Haru, mau pulang bareng ?” ajakku
“Maaf aku ada latihan hari ini, kau pulang duluan saja” balas
Haru
“Baiklah kalau begitu aku pulang duluan, dah Haru” ucapku
“Oke, dah” balasnya
Dan akhirnya
aku pulang bersama Nanaka, dan tentu saja kami berpisah ditengah jalan ditempat
biasa kami bertemu. Dan hal yang sama terulang sampai beberapa hari. Haru dan
aku tidak mengobrol seperti sebelumnya kami hanya berbicara sedikit dan tidak
ada yang melanjutkan pembicaraan. Terkadang Nanaka memulai percakapan antara
kita bertiga tetapi tetap saja Haru menjawabnya setengah – setengah. Bahkan aku
jarang melihat Haru tertawa tanpa beban lagi beberapa hari ini. Dan setelah 3
hari berlalu saat pulang sekolah.
“Hey Haru, bagaimana hari ini ? kau ada latihan ? pulang
bareng yuk” ajakku
“Maaf Yuki tapi hari ini aku ada urusan dengan Nanaka jadi
aku akan pulang dengannya” jawabnya
“Nanaka apa kau ada waktu hari ini ? ada yang ingin
kubicarakan denganmu” ucap Haru pada Nanaka.
“Ummm… Oke” balas Nanaka.
Lalu Nanaka melihat padaku dan akumembuat isyarat menanyakan
ada apa. Dan Nanaka mengangkat tangan dan bahunya seraya mengatakan diapun
tidak tahu.
“Aku duluan ya Yuki” ucap Nanaka sambil melambaikan tangannya
dan menuju pintu keluar kelas
“Oke” jawabku sambil melambaikan kembali tanganku.
Merekapun keluar kelas dan Haru tidak menoleh kebelakang
sedikitpun. Aku merasa tersisih walaupun aku yakin mereka tidak berniat seperti
itu. Mereka hanya memiliki beberapa urusan yang harus mereka selesaikan aku
terus meyakinkan diriku. Walaupun aku terus meyakinkan diriku tetap saja
didalam aku merasa kesepian karena mereka memiliki pembicaraan tanpa melibatkanku.
Dan aku memutuskan untuk langsung pulang kerumah sendirian.
Hari selanjutnyapun seperti biasa aku berangkat sendiri dari
rumah dan bertemu dengan Nanaka ditengah jalan untuk berangkat bersama ke
sekolah.
“Jadi apa yang kalian bicarakan kemarin ?” tanyaku kepada
Nanaka.
“Yah beberapa hal” jawabnya dengan ambigu.
“Ayolaaaah Nanakaaaaa apa yang kalian bicarakan kemarin”
tanyaku dengan memohon
“Haru bilang itu adalah rahasia jadi walaupun kau memohon –
mohonpun tak akan ku beritahu hehe” jawab Nanaka seperti bermain – main.
Lalu kami lanjur mengobrol tentang hal lain sampai ke kelas.
Dan seperti biasa Haru sudah duduk di bangkunya sambil membaca buku.
“Pagi Haru” sapaku selagi aku menaruh tasku di meja dan duduk
di bangku sampingnya
“Yo” jawab Haru sambil tetap membaca buku tanpa menengok sama
sekali
Dan haripun berlalu seperti biasa tanpa ada kemajuan antara
aku dan Haru. Dan di saat pulang sekolah Haru membereskan barang – barangnya
dengan cepat lalu menuju meja Nanaka yang berada dibelakangku.
“Hey Nanaka ayo” ajak Haru
“Oke, tunggu sebentar tunggu aku didepan kelas saja” jawab
Nanaka
“Baiklah, jangan terlalu lama” balas Haru
“Okay” jawab Nanaka “Yuki aku duluan ya, maaf sepertinya aku
tidak bisa pulang bersama lagi hari ini, kau duluan saja” tambahnya
“Baiklah kalau begitu” jawabku
“Bye Yuki”
“Bye”
“Hey Haru jangan lupa janjimu kalau kau akan menraktirku hari
ini” terdengar suara Nanaka ceria dari luar kelas
“Iya iya aku tidak lupa” suara Haru-pun terdengar
Kembali aku
merasa seperti tersisihkan lagi. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menuju
shopping district terlebih dahulu karena aku ingin ke took buku untuk membeli
beberapa buku dan majalah. Di shopping district dipertengahan jalan menuju took
buku aku melihat Haru dan Nanaka sedang berjalan samping – sampingan sambil
memgang crepe di tangan mereka dan megobrol santai. Dan aku melihat yang akhir
– akhir ini jarang kulihat, Haru tertawa lagi saat mengobrol dengan Nanaka.
Entah mengapa dadaku sakit tak tertahankan. Padahal Haru yang kusuka dapat tertawa
lagi yang beberapa hari ini selalu terlihat depresi sekarang dia dapat tertawa
lagi. Tapi mengapa dadaku sakit. Apakah karena dia tidak tertawa denganku.
Sejak kapan mereka sedekat ini ? Apakah hanya aku yang tidak menyadarinya saja
karena aku selalu berada disamping mereka. Tiba – tiba kata – kata Nanaka
melintas dikepalaku “kalau kau lama – lama seperti itu mungkin Haru akan
kurebut lho”. Apakah dia benar – benar bermaksud seperti itu, tetapi dia bilang
dia hanya bercanda. Tetapi bila dipikir – pikir memang mungkin saja itu terjadi
karena kami selalu bertiga dan mungkin saja bila Nanaka menyukai Haru dan
sebaliknya juga. Hanya aku saja yang selama ini arogan dan tidak menyadari
kalau tidak ada apa – apa diantara mereka. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk
pulang karena aku tidak tahan akan sesak didadaku. Sesampainya dirumah aku
langsung mengunci diriku dan tidak keluar kamar sampai berganti hari.
Keesokan
harinya entah mengapa tetapi aku sangat malas sekali untuk pergi ke sekolah.
Walaupun aku tidak begitu berniat untuk pergi sekolah tetapi aku tetap
memaksakan diriku untuk pergi juga. Seperti biasa Nanaka sudah menunggu
dipertigaan tempat kami biasa bertemu.
“Pagi Yuki, kau lebih lama dari biasanya Yuki” sapa Nanaka
seperti biasanya
“O- oh, pagi Nanaka” jawabku
Seperti biasa Nanaka mengobrol dengan santai kepadaku tetapi
aku hanya menjawab setengah setengah karena dadaku sangat sesak karena
mengingat kejadian kemarin.
Disaat istirahat makan siang. Aku mengeraskan tekadku untuk
bertanya pada Nanaka tentang dia dan Haru. Aku sudah memikirkannya sejak
semalam dan aku harus mengatakannya sekarang
“He- Hey Na- Nanaka” aku memanggil Nanaka
dengan gugup
“Hmm ?”
Nanaka penasaran dan menengok padaku
“Apakah ada
hal yang kau tidak katakana padaku ?” tanyaku
“Maksudmu ?”
dia bertanya kembali
“Aku
melihatmu dengan Haru kemarin di Shopping District kalian begitu dekat, dan
kalian pun terlihat sangat asyik ketika berdua. Aku tahu ini agak sulit bagiku
di awal tapi aku akan merelakannya. Jadi apabila kalian berpacaran katakana
saja padaku aku pasti akan merestui hubungan kalian. Tidak perlu kalian
rahasiakan sama sekali. Lagipula aku juga tidak akan mungkin pernah menang bila
bersaing dengan Nanaka” dan akhirnya aku mengatakan
semuanya
Tetapi Nanaka
hanya menunduk dan terdiam di tempatnya.
“Nanaka ?”
aku memanggilnya sambil membalikkan badanku agar bisa berhadapan dengan Nanaka
-plakkk-
Nanaka
menamparku selagi mengangkat kepalanya dan terlihat air mata menetes dari balik
kaca matanya.
“Eh ?” aku
keheranan selagi memegang tempat dimana aku ditampar oleh Nanaka
“Dasar Yuki
bodooooooooh” ucap Nanaka selagi dia berlari keluar kelas.
Ketika dia
ingin melewati pintu kelas dia berpapasan dengan Haru yang ingin masuk kedalam
kelas. Nanaka menengok kearah Haru sepersekian detik selagi berlari lalu dia
mengencangkan larinya di lorong sekolah. Haru yang kebingungan lalu meliihatku
dan bertanya
“Apa yang
terjadi ?”
“Aku hanya
bertanya masalah kalian berpacaran atau tidak” aku menjelaskan dengan
kebingungan
Tiba – tiba Haru langsung berbalik dan berlari mengejar
Nanaka. Dan tanpa kusadari air mata menetes dari mataku juga. Perih dipipiku
tempat dimana Nanaka menamparku tidaklah seperih hatiku yg telah remuk. Aku memutuskan
untuk pergi ke ruang UKS untuk beristirahat. Dan saat aku memasuki ruang UKS
tidak ada siapapun disana. Aku meminjam satu kasur untuk beristirahat tetapi
aku tidak bisa beristirahat dengan tenang karena air mataku tidak dapat
berhenti. Aku berpikir bahwa enaknya menjadi Nanaka dia memiliki Haru untuk
menghapus air matanya. Sedangkan aku, tidak ada yang tertinggal untukku.
Hanyalah kesunyian yang tersisa untukku. Tidak mungkin Haru untuk melihat air
mataku. Didalam kesunyian ini tidak ada yang akan mendengarkanku menangis
apalagi untuk menenangkanku.
Dan pada akhirnya bel pertanda pulang yang aku tunggu dari
tadi berbunyi. Aku menunggu setidaknya 30 menit agar orang – orang yang berada
diluar mulai sepi untuk mengambil tasku dikelas. Dan saat aku melewati gerbang
sekolah aku merasa aku tidak ingin pulang terlebih dahulu. Seperti biasa aku
berjalan menuju tempat favoritku taman dimana aku dan Haru bertemu dan
menghabiskan masa – masa kecil kami disana. Walaupun aku tahu ditempat itu
banyak kenangan kami berdua yang mungkin akan semakin menyakitkanku tetapi aku
yakin tempat itu dan kenangan yang berada disana akan menenangkanku bukan
menjatuhkanku. Sesampainya di taman aku melihat seseorang sedang berayun di
ayunan sambil berdiri. Tanpa menghiraukannya aku berjalan mendekati ayunan yang
satunya lagi. Dan tiba – tiba orang tersebut mengayun lebih kencang dan
melompat dari ayunan tersebut. Aku terkejut sekaligus terpesona akan hal yang
orang tersebut lakukan. Ketika diingat – ingat lagi hal seperti ini pernah
terjadi saat aku kecil.
Saat aku belum mengenal Haru dan bahkan belum mengenal
siapapun saat kecil. Kalau tidak salah waktu itu saat musim semi ketika aku
baru pindah ke sebelah rumah Haru. Aku menuju ke taman terdekat disana dan
melihat seorang anak kecil sedang berayun sambil berdiri di ayunan tersebut
sama seperti orang tadi. Pelan tapi pasti anak itu berayun lalu tiba – tiba dia
menaikkan temponya dan ketika sudah di ketinggian yang maksimal untuk anak itu
tiba – tiba dia melompat. Pemandangan ketika anak itu melompat sangat
mempesonaku dan aku hanya bisa terdiam akan keindahan itu. Dan anak itu
mendarat dengan sempurna tanpa jatuh dan tiba – tiba dia berkata “Aku baru
pertama kali melihatmu, apakah kau orang baru ? kenalkan namaku Haruo Kidou.
Kau dapat memanggilku Haru saja kalau kau mau” sambil tersenyum lebar dan
menawarkan tangannya. Kenangan itu tidak pernah dapat aku lupakan sama sekali.
Mungkin sejak saat itulah aku mulai mengagumi Haru dan perasaanku terus dan
terus berkembang menjadi suka dan cinta kepadanya.
“Hufff….
Sudah lama aku tidak melakukannya” ucap orang yang melompat dari ayunan tadi
sekaligus menyadarkanku dari lamunanku
“Lama sekali
kau, aku sudah lelah menunggu…. Yuki” orang tersebut mengangkat kepalanya
kearahku dan tersenyum
“Ha- Haru ?”
ucapku kebingungan “apa yang kau lakukan disini ?” tambahku
“Ada hal
yang perlu kusampaikan padamu” ucapnya “Maaf perlu waktu lama untuk
menyadarinya” tambahnya
“Sebenarnya, Aku menyukaimu Yuki”
“Sebenarnya, Aku menyukaimu Yuki”
“E- Eh ?”
“ Kita sudah
selalu bersama sejak kecil, dan andaikan saja kita terus seperti itu pasti akan
lebih baik. Aku tidak pernah menyadarinya karena kau selalu saja berada
disampingku. Tetapi aku, selalu menyukaimu selama ini. Dan pada akhirnya aku
mengerti akan perasaanku ini. Karena itu aku selalu ingin bersamamu selamanya”
“Ha- Haru”
aku meletakkan kedua tanganku didepan mulut dan hidungku sambil menahan tangis.
Walaupun pada akhirnya air mataku tidak dapat kuhentikan sama sekali
“Bagaimana
denganmu Yuki ? apakah kau menyukaiku ?” Tanya Haru padaku dengan muka
seriusnya.
Perlu
beberapa detik untukku agar bisa mencerna kata – kata Haru dan kejadian yang
sedang terjadi saat ini. Pada akhirnya aku dapat mengumpulkan kekuatan dan
keberanianku untuk mengatakan perasaanku yang selama ini kupendam.
“Te- Tentu
saja aku menyukaimu, tidak pernah ada orang yang benar – benar menyukaimu dan
memperhatikanmu lebih dibanding aku. Aku selama ini menunggu hal ini terjadi.
Aku sudah beberapa kali ingin menyatakan cintaku hanya saja aku takut akan
kalau kau akan menolakku dan pergi. Membayangkannya saja sudah membuatku ragu.
Dan ketika aku menjauhiku beberapa hari ini, aku sangat ketakutan kalu kau akan
benar – benar pergi dariku” jawabku sambil terisak dan menaikkan suaraku
sedikit.
Haru
tersenyum dan,
-srettt-
Tiba – tiba
Haru menarikku dan memelukku dan membelai rambutku dengan tangan kanannya.
“Huhuuuu…..
Haru bodoh” aku menangis didalam pelukannya
“Ya aku
memang bodoh, maafkan aku ya, kau mau memaafkanku kan ?” Tanya haru
“Tentu saja
bodoh, asalkan biarkan aku seperti ini untuk beberapa saat” jawabku selagi
masih menangis terisak – isak.
“Baiklah”
balasnya.
-Haru Side of View-
“Haaaaaahhhh…..”
aku mengehela nafasku
“Aku ini
bodoh sekali mengapa beberapa hari ini aku tidak bisa bertindak seperti biasa
ketika didekat Yuki, apa karena aku masih teringat akan hal yang terjadi tempo
hari ketika dia ditembak oleh cowok lain dan aku takut untuk menanyakannya” aku
menggerutu pada diriku sendiri selagi memakan rotiku di bangku taman sekolah.
Tetapi bila kupikir – pikir lagi ada
yang berbeda pada diriku semenjak Yuki ditembak oleh Umehara. Aku mulai tidak
bisa tenang bila dekat dengan Yuki dan aku bingung harus berbicara apa
dengannya walaupun aku sangat ingin mengobrol dengannya. Walaupun kemarin dan
kemarin lusa aku sudah meminta saran dan nasihat dari Nanaka tetapi tetap saja
aku tidak bisa bertingkah seperti biasa ketika didekat Yuki. Padahal ketika aku
mengobrol dengan Nanaka aku bisa menjadi seperti diriku biasanya tetapi mengapa
semuanya berubah bila aku bersama Yuki. Jantungku berdetak kencang sekali
seperti jantungku akan keluar dengan sendirinya saking kencangnya dia berdetak.
Sama seperti ketika Yuki ditembak Umehara, hanya saja ketika itu detakannya
sangat menyakitkan dan sangat berbeda dengan yang sekarang.
“Sepertinya
berpikir dengan keras pun aku tetap tidak menemukan apa – apa” aku bergumam
selagi menghabiskan potongan roti terakhirku dan meghabiskan minuman kalengku
Dan aku memutuskan untuk kembali ke
kelas karena bel pertanda istirahat makan siang habis akan berbunyi. Saat aku
mendekati pintu kelas terdengar sedikit keributan di kelas. Sepertinya ada yang
sedang berkelahi aku berkata dalam pikiranku. Dan ketika aku masuk kedalam
kelas Nanaka berlari melewatiku dalam keadaan menangis. Dia melihatku lalu
mengalihkan pandangannya dan menyembunyikan mukanya selagi berlari semakin
kencang.
“Apa yang
terjadi ?” tanyaku pada Yuki yang sedang berdiri mematung didalam kelas
“Aku hanya
bertanya masalah kalian berpacaran atau tidak” jawabnya kebingungan.
Aku langsung berbalik dan mengejar
Nanaka. Aku sebenarnya sangat ingin berjalan masuk kedalam kelas dan
menenangkan Yuki hanya saja Nanaka pasti sangat terguncang dan memiliki alasan
lain hingga akhirnya dia memutuskan untuk lari dan pergi dari sana dibanding
menjelaskan semuanya kepada Yuki. Aku juga tidak tahu dengan pasti alassan
mengapa Nanaka sampai kabur dari hadapan Yuki.
“Cih kemana
dia pergi” gumamku saat melewati gerbang sekolah.
Dan aku
mulai berlari tanpa arah. Aku mulai mencari setiap tempat yang memungkinkan Nanaka
untuk pergi kesana. Mulai dari Shopping District tempat dimana kami pergi
kemarin, sayangnya dia tidak dapat ditemukan di bagian manapun dari Shopping
District ini. Aku langsung berlari lagi menuju
pantai dimana kami bertiga biasa kunjungi tetapi dia tidak dapat
ditemukan juga disini. Lalu aku teringat bahwa dia sangat menyukai taman
sakura. Aku langsung berlari menuju taman sakura di kota kami.
“Cih, kenapa
aku tidak mengingatnya dari tadi” protesku pada diriku sendiri.
Sesampainya
disana aku mencari ke setiap sudut taman tersebut dan akhirnya setelah mencari
lebih dalam aku menemukan Nanaka disana sedang berdiri menghadap pohon sakura
yang kupikir terbesar di taman itu dan dia sedang berdiri menghadap pohon
tersebut dengan kedua tangannya saling berpegangan dibelakang badannya dan
rambut pendek sebahunya tertiup angin sepoi – sepoi.
“Nanaka ?”
aku memanggilnya dari belakang
“Eh ? Haru
?” dia menengok sedikit kebelakang dan kaget mendapatiku sedang berada
dibelakangnya. Dan akhirnya dia berbalik menghadapku
“Apa yang kau lakukan disini ?” tanyanya
“Apa yang kau lakukan disini ?” tanyanya
“Uh- oh aku
melihatmu lari keluar kelas sambil menangis tadi makanya aku tiba – tiba saja…”
aku membalasnya.
“Bukankah
kau berada ditempat yang salah dan dengan orang yang salah ?” ucapnya
“Eh ?”
aku kebingungan
“Kau tahu
sebenarnya aku sangat menyukai bunga sakura, dan bunga sakura mekar di musimmu
Haru, musim semi.”Ucap Nanaka.
“Dan aku menyukai pohon sakura ini dibanding yang lain. Kau mau tahu alasannya Haru ? Karena orang – orang bilang bila kau sangat menyukai seseorang dan berdoa untuk orang tersebut dibawah pohon ini maka doamu akan terkabul apabila pohon ini mati pada musim semi. Aku dan Yuki selalu berdoa disini untuk orang yang kami cintai sejak SMP kemarin hanya saja tidak ada tanda - tanda kalau pohon ini akan mati ataupun permohonanku akan terkabul. Entah karena alasan cintaku tidak begitu kuat untuk orang tersebut atau kami berdua memohon untuk orang yang sama ehehe” tambah Nanaka dengan sedikit tersenyum dan dengan matanya yang berkaca – kaca.
“Dan aku menyukai pohon sakura ini dibanding yang lain. Kau mau tahu alasannya Haru ? Karena orang – orang bilang bila kau sangat menyukai seseorang dan berdoa untuk orang tersebut dibawah pohon ini maka doamu akan terkabul apabila pohon ini mati pada musim semi. Aku dan Yuki selalu berdoa disini untuk orang yang kami cintai sejak SMP kemarin hanya saja tidak ada tanda - tanda kalau pohon ini akan mati ataupun permohonanku akan terkabul. Entah karena alasan cintaku tidak begitu kuat untuk orang tersebut atau kami berdua memohon untuk orang yang sama ehehe” tambah Nanaka dengan sedikit tersenyum dan dengan matanya yang berkaca – kaca.
“Na- Nanaka
a- aku” aku mencoba mengucapkan sesuatu tetapi aku tidak tahu harus berkata
apa.
“Kau tahu ?
rasa sukaku padamu itu seperti bunga sakura. Aku tahu kalau suatu saat bunga
itu akan mekar hanya saja bunga itu akan segera gugur dalam waktu yang sangat
singkat. Tetapi, yang aku tahu pasti dengan gugurnya bunga itu akan menciptakan
suatu keindahan yang lain. Sekarang pergilah Haru, pergilah ke tempat Yuki.”
ucap nanaka
“Tapi
bagaimana dengan kau ?” tanyaku
“Aku tidak
apa – apa. Aku hanya butuh sedikit waktu lagi berada disini” balasnya selagi
membalikkan badannya menghadap pohon sakura kembali.
Aku ragu
akan apa yang harus kulakukan untuk sementara. Lalu aku menguatkan tekadku dan
menetapkan pilihanku.
“Baiklah,
maafkan aku Nanaka aku akan menemui Yuki” ucapku sambil berbalik dan mulai
berlari
“Untuk apa
kau meminta maaf dasar Haru bodoh” aku mendengarnya samar – samar dan ketika
aku menengok kebelakang kearah Nanaka aku melihat air mata menetes di pipinya.
Kemana aku
harus pergi, ke sekolah kah, kerumahnya kah, atau. Lalu aku langsung teringat
kemana aku sebenarnya harus pergi. Langsung saja aku mempercepat langkah lariku
menuju tempat dimana kami berdua bertemu pertama kali menuju taman dimana kami
menghabiskan waktu masa kecil kami disana.
-Yuki Side of View-
Beberapa
saat kemudian ketika aku sudah mulai tenang.
“kau sudah
tenang ? akan kubelikan jus” dia berdiri dari kursi taman.
“Jangan
tinggalkan aku” aku menahan bagian belakang bajunya. Dan sedikit cemberut yang
kubuat – buat.
Haru
menengok kebelakang dan tersenyum.
“Baiklah”
dia kembali duduk dan aku menaruh kepalaku dibahunya.
“Bagaimana
dengan Nanaka ? kupikir kau menyukai Nanaka” tanyaku
“Memangnya
terlihat seperti itu ?” dia balik bertanya
“Habisnya
kemarin aku melihat kalian berdua di shopping district bermesraan berdua sambil
memakan crepes dan tertawa bersama” jelasku
“Oh, kemarin
aku hanya meminta saran dan nasihatnya dan sebagai gantinya aku membelikannya
crepes” jawab Haru
“Saran untuk
apa ?” aku bertanya kembali
“Saran
tentang perasaanku terhadapmu ini” ucapnya tanpa ragu sedikitpun.
“…” aku
terdiam dan aku tahu kalau mukaku memerah padam.
“Yuki ? ada
apa ?” Tanya Haru.
“Ah, tidak
ada apa – apa” jawabku kepanikan sambil memegang pipiku yang memerah.
“Oh iya,
bagaimana dengan bagian pipimu yang ditampar Nanaka ? apakah masih sakit ?”
“Yah, masih
sedikit perih” aku mengelus bagian pipiku yang ditampar Nanaka.
“Coba
kulihat” tiba – tiba Haru bangun dan menunduk didepanku sambil memegang pipiku
yang ditampar Nanaka.
Tanpa
kusadari muka Haru sangat dekat dengan mukaku ditambah tangannya mengelus
pipiku. Aku yakin mukaku sangat ini semerah matahari terbenam.
“Hmmm…
Sedikit merah saat dirumah nanti jangan lupa beri es atau air dingin agar tidak
sakit lagi” ucapnya
Bodoh pipiku
memerah karenamu aku mengucapkan itu didalam pikiranku. Dan akhirnya dia
menejauh.
“Pulang yuk,
sudah jam 8 malam” ajak Haru selagi dia menyodorkan tangannya.
“Bagaimana
dengan Nanaka ?” aku bertanya sembari menyambut tangan Haru
“Yah mungkin
dia sudah pulang dari tadi” jawab Haru “jangan lupa untuk berbaikan besok”
tambahnya
“Yep, aku
harus meminta maaf pada Nanaka besok” ucapku
Dan kami
berjalan kerumah sambil berpegangan tangan. Walaupun sepanjang jalan kami
jarang berbicara tetapi kesunyian ini sangatlah menenangkan dan membuatku
nyaman tidak seperti sebelumnya. Dan kami sampai di depan rumah kami masing –
masing dan berpisah.
“Bye Yuki
sampai ketemu besok pagi, selamat tidur” ucap Haru
“Bye,
selamat tidur juga Haru” balasku.
Dan ketika
masuk ke rumah aku langsung mandi dan makan malam. Walaupun aku diiterogasi
oleh ayah dan ibuku karena mukaku memancarkan aura bahagia yang berlebihan. Dan
untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini aku mendapatkan tidur yang
nyenyak sekali.
“Jadi
bagaimana bocah Kudou itu menembakmu ?” Ayahku bertanya dengan tiba - tiba saat
aku sekeluarga sedang sarapan pagi di ruang makan
“Eh ? Eeeeeh
? Bagaimana ayah tahu— maksudku Apa maksud ayah ?” aku menjawab dengan kepanikan
“Ahahaha
Yuki sampai kapanpun mudah ditebak ya” ibuku ikut perbincangan dengan tawanya
sambil menuangkan kopi ke gelas ayah
“Beberapa
hari yang lalu kau muram terus dan sekarang kau tersenyum – senyum sendiri
seperti itu jadi ayah menebak bahwa si bocah Kudou itu menembakmu, dan
sepertiya tebakan ayah benar” ayah menambahkan
“Ahahaha
yaaah seperti itulah” balasku dengan tertawa garing
“Yah, ayah
tidak akan melarangmu untuk pacaran apalagi orang yang kita bicarakan adalah si
bocah Kudou itu, yang ayah lihat orang itu cukup baik dan dari yang ayah dengar
darimu kalau nilainya juga cukup bagus dan selalu masuk kedalam 10 besar nilai
tertinggi di sekolahmu apalagi kita juga sudah dekat dengan keluarga mereka
jadi ayah tidak akan melarang kalian berpacaran” ucap ayah
“Benarkah
ayah ? haha asiiik terimakasih ayah” balasku kegirangan
“Bagaimana
dengan ibu ?” ayah bertanya pada ibu
“Ibu juga
tidak keberatan kok, lagipula Haruo-kun juga cowok yang tampan dan cocok dengan
Yuki” jawab ibu
“Terima
kasih ibu” ucapku pada ibu yang telah merestui hubungan aku dan Haru
“Baiklah sudah saatnya aku berangkat ke sekolah” tambahku selagi aku mengambil tasku yang berada di bawah meja dan menuju pintu depan
“Baiklah sudah saatnya aku berangkat ke sekolah” tambahku selagi aku mengambil tasku yang berada di bawah meja dan menuju pintu depan
“Aku
berangkaaaaaaaat” ucapku saat keluar rumah
“Hati – hati
dijalan” balas Ibu
Saat aku
keluar rumah Haru sudah berdiri di depan rumahku sambil bersandar ke dinding
sebrang. Aku tersenyum degan sendirinya karena melihat pemandangan yang
beberapa hari ini sudah jarang kulihat.
“Pagi Haru”
sapaku dari dalam pagar
“Ah yo pagi”
balasnya mengangkat kepalanya menyadari kehadiranku
“Tidak ada yang terlupa ?” tambahnya
“Tidak ada yang terlupa ?” tambahnya
“Mmm.. tidak
ada” jawabku
“Tunggu dulu kau bertanya padaku ada yang tertinggal atau tidak tetapi kau sendiri tidak membawa tas, kemana tasmu ?” aku bertanya
“Tunggu dulu kau bertanya padaku ada yang tertinggal atau tidak tetapi kau sendiri tidak membawa tas, kemana tasmu ?” aku bertanya
“Well,
kemarin saat istirahat makan siang aku langsung berlari keluar sekolah tanpa
membawa tas dan aku langsung pergi ke taman menunggumu jadi aku tidak sempat
kembali ke sekolah untuk mengambil tasku kembali hahaha” jawabnya sambil
tertawa
“Yaampun kau
ini terkadang ceroboh juga yah” balasku sambil meggeleng kepalaku
“Dan orang
ceroboh itu sekarang adalah pacarmu haha” ucap Haru sambil tertawa kecil
-blush- mukaku memerah karena mendengar
ucapannya.
“Yuk
berangkat” tambah Haru
Aku
membalasnya dengan mengangguk sambil melihat kebawah menahan mukaku yang
memerah. Sepanjang perjalanan kami mengobrol seperti biasa hanya saja dengan
atmosfir yang berbeda. Dan saat kami sampai di persimpangan tempat Nanaka biasa
menunggu kami, aku melihat pemandangan seperti biasa Nanaka sedang berdiri
meunggu kami selagi meluruskan rambutnya dengan tangannya. Menyadari
kedatanganku dan Haru dia tersenyum kearah kami dan mulai berjalan disampingku.
“Oh, aku
ingat aku adalah petugas piket hari ini. Maaf aku pergi duluan ya” ucap Haru
dengan tiba – tiba
“Hooo,
baiklah kalau begitu hati – hati” jawabku sambil melambaikan tangan dengan
pelan. Dan Haru-pun mulai berlari sambil balas melambai.
“Dasar Haru
itu, meninggalkan pacarnya dengan berbohong seperti itu hanya untuk memberikan
kita waktu berbicara” ucap Nanaka dari sampingku.
“Eh ? oh
iya, Haru kan tidak bertugas hari ini” aku menyadarinya dengan telat.
“Maaf
Nanaka”
“Maaf Yuki”
Aku dan
Nanaka meminta maaf dengan bersamaan. Dan kami kaget karena kami mengucapkan
hal yang sama dengan waktu yang bersamaan pula. Dan kami tertawa karena saling
menyadari kebodohan kami.
“Hahaha
yaampun Nanaka bagaimana kita bisa berpikir hal yang sama seperti ini haha”
ucapku
“Well,
mungkin karena kita selalu bersama sehingga kita selalu sepikiran” balasnya
“Yang pasti,
aku meminta maaf karena aku salah paham tentang kau dan Haru dan aku meminta
maaf karena mengucapkan hal – hal yang tidak seharusnya kepadamu” ucapku kepada
Nanaka.
“Aku juga
minta maaf karena telah menamparmu kemarin Yuki, pasti sakit ya ?” balasnya
“Yah,
awalnya sih sakit tetapi sekarang sudah tidak sakit lagi kok” balasku
“Kemarin kau
mengatakan bahwa kau tidak akan pernah menang bila bersaing denganku. Justru
kebalikannya, akulah yang tidak akan pernah menang bersaing denganmu bila hal
itu menyangkut lelaki” ucap Nanaka
“Tetapi
memang benar kok Nanaka lebih manis dariku” balasku dengan cepat
“Tetapi Haru
lebih memilihmu. Lagipula aku sudah tidak memperdulikan itu lagi. Dan saran
dariku kau tidak boleh melepaskan dan membuat sedih Haru okay. Atau, tanpa kau
sadari aku akan merebut Haru darimu” ucap Nanaka sambil menunjukku.
“Eeeeeeeeh ?
kau bercanda kan Nanaka ?” tanyaku dengan panik.
“Hahaha
bercanda kok bercanda, aku akan mendukung hubungan kalian mulai daring sekarang
dan seterusnya” balas Nanaka.
Dan kamipun
mengobrol dan bercanda – canda menuju sekolah dan pada akhirnya sampai di kelas
kami dengan mendapati Haru sedang duduk di kursinya.
okedeh post nih chapter 3 setelah sekian lama, sorry banget baru post soalnya kemaren kemaren sibuk sama kepanitiaan jadi jarang nulis lagi selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak :D